Senin, 30 September 2013

AKU DAN ADIKKU

Sore ini sangat melelahkan karena Andy sehabis bermain bola dengan teman-temannya, “ Aaaahh sore yang sungguh melelahkan. Lebih melelahkan dari mengerjakan tugas Matematika yang menguras otakku , Dirumah hanya ada adek dan kakakku serta ibuku.. haaaaah sangat membosankan “ Ucap Andy. Andy yang bosan dirumahnya tidak ada hal yang menyenangkan langsung mengambil laptopnya dari tas sekolahnya dan menonton Film Argo, Baru beberapa menit Andy menonton film Argo. Adek Andy yang bernama Ibam melihat laptop andy dan Dia berlari mendekati kakaknya. “ CICIAAT.. CICAAAAAT !!! “ Ucap Ibam. Andy yang mulai kesal karena kesenangannya Diganggu, Berfikir untuk lari dengan cepat sambil membawa laptopnya ke tempat lain  Tapi Adek Andy juga lari dengan cepat mengejar Andy. Ibu andy yang melihat Andy tidak memperbolehkan merasa Kesal dan Berkata “ ANDY !! kasihlah Laptop Kamu itu Biarin adekmu liat Power Rangers “ Marah Ibunya Andy. Andy menaruh laptonya di meja kecil dan adeknya pun langsung duduk didekat andy “ CICIAT.. KAKAA’ CICIAAT “ ucap Ibam dengan ekpresi polosnya. Andy yang melihat ekpresi  polos Ibam, Berubah kekesalan Andy menjadi rasa kasihan. Andypun menyalakan kartun kesukaannya. Suara Adzan Maghrib Berkumandang, Mendengar Suara Adzan Andy Bersiap untuk Ke Masjid. Sehabis sholat Andy merasa kelaparan, Dia pun bergegas pulang. Andy yang sudah berada di depan pintu rumahnya langsung membuka pintu dan mengucapkan “ASSALAMUA’ALAIKUM ” Salam Andy. Segera Andy membuka tudung saji   “ Wih lauknya Cumi saus Padang ! “ Kata Andy. Andy mengambil lauknya dan makan didepan Tv. Dia mengambil remot tv dan mencari – cari acara yang bagus untuk ditonton, dia tidak menemukan acara yang menarik dan dia mulai bosan lalu dia pindah didepan laptop menemani adeknya nonton. Usai makan Andy mencuci piringnya sendiri dan menemani Adeknya menonton lagi Sampai Dia tertidur pulap. 

By : Ichsan Ali

Kamis, 05 September 2013

MISTERI GADIS KECIL DI RUMAH KOSONG


Malam yang sunyi itu , Evan mengerjakan PR-nya  di ruang keluarga. Semua Keluarganya sudah tidur kecuali Evan, bibi dan kakaknya. Kebetulan, hari itu adalah hari Kamis tepatnya malam Jumat .
Saat itu Evan hampir Selesai dengan PR-nya saat jam 10.00. “Tok…Tok…” Evan Mendengar bunyi yang seperti palu. “Siapa yang malam – malam begini masih ngetok palu ? Evan “kebingungan . Tak berselang lama suara itu muncul lagi. Evan yang penasaran langsung ke kamar ibu dan ayahnya. “Bu. Evan pinjem sapu sebentar”. Kata Evan kepada ibunya. Namun ibu Evan curiga. “Untuk apa dia nyapu malem malem”. Dengan muka curiga.
Angin berhembus cepat kearahnya saat dia ingin berlari kearah jendela kamarnya. Evan pun menoleh kearah kiri . “Tiba – Tiba” Whhaaaaaa……. Setan. “Teriak Evan Ketakutan. 1 keluarga pu tekejut.
“Ada apa Van , malem – malem kok teriak ? “Tanya ibunya”
“Ada setan bu di sebelah rumah kita”. Jawab Evan sambil ketakutan. Ibu dan ayah melihat ke rumah sebelah. Namun tidak ada apa – apa . ibu pun mengantarkan Evan ke kasur , lalu mematikakan lampu dan menghidupkan lampu tidur. “Tok…Tok…” suara tersebut terdengar lagi. Evan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. Selimut Evan tersebut tiba – tiba tertarik sendiri dan pintu kamarnya terbuka lebar. “KAKAK..” Jerit Evan saat melihat ada sesosok gadis. “Van.. ada apa ? Tanya kakaknya. Evan terbangun, ternyata semua hanya mimpi. Di sekelilingnya sudah ada keluarganya. “Ada apa Van kok malem begini kamu menjerit ?” Tanya ibunya. “Evan tadi melihat seorang gadis di depan pintu bu..” jawab Evan dengan wajah takut. “udah itu hannyalah mimpi”. Ujar kakaknya .
Keesokkan malamnya , saat Evan hendak pergi ke dapur untuk minum dia melihat gadis itu lagi, namun gadis itu seperti mengajak Evan ke sesuatu tempat. Dengan modal keberanian Evan pun mengikuti jejak gadis itu pergi. Namun tak di sangka gadis itu mengajak Evan ke tempat rumah kosong yang berada di dekat rumahnya. “Mengapa gadis mengajak saya ke rumah kosong ini” pikir Evan dengan wajah ketakutan. Evan pun masuk ke dalam rumah tersebut dan melihat sekeliling rumah tersebut. “Sepertinya rumah ini sudah ditingggal puluhan tahun lalu” hati Evan penasaran. Lalu gadis itu berlari ke halaman belakang. ”hey tunggu mau kemana kamu” Tanya dengan penasaran. Setelah Evan telah sampai di belakan halaman dia mendengar suara gadis tersebut. “ Diaaaaa..” dengan nada marah. “Dia siapa?” Mencari sambil Tanya keheranan. “Diaaaa .. Telahh… “jawab gadis. Evan pun terus mancari gadis tersebut, tak disangka di melihat sepatu berwarna biru tertimbun tanah. Tanpa berpikir panjang Evan langsung menggali tanah tersebut. Dengan sangat kagetnya Evan melihat tubuh si gadis tersebut dengan leher hampir putus. Evan pun lari keluar pintu menuju ke rumah dengan hati ketakutan. Evan terus berpikir “Mengapa gadis itu mengincar saya”gurau Evan. Malam hari ini tak seperti malam – malam sebelumnya. Dingin mulai menusuk tulanng, angin  lebih kencang. “Braaakk….. “ seperti suara piring pecah. Evan pun bangkit dari kasurnya menuju dapur. Kebetulan di dapur udah ada kakannya. “Apa yang terjadi kak?” Tanya Evan. “Tidak ada apa – apa, kamu berguarau yaa?” Jawab sambil ketawa.”enggak .. tadi evan mendengar ada suara piring pecah di dapur”. Balas dengan nada heran. “emang ada apaan sih.. belakangan ini kamu sering bergurau?” Tanya kakaknya. “Sebenarnya……”. Evan menceritkan semua kejadian yang menimpanya. Setelah mendengar cerita tersebut kakaknya pun shock. “Dia adalah temen kakak saat masih kecil, namanya Eneria. Kami selalu bercanda sesuka ria, melakukan hal – hal konyol. Namun, suatu malam kakak mendengar ada suara minta tolong. Suara itu jelas berada di sebelah rumah kita. Tak berselang lama suara itu tak terdengar lagi. Mungkin kakak pikir kakak hanya bergurau. Esok paginya hendak ingin berangkat ke sekolah, semua orang berkumpul di rumah Eneria. Kakak pun langsung berlari ke rumah Eneria dan apa yang terjadi. Eneria bunuh diri dengan menggorok lehernya dengan pisau. Kakak hanya bisa menangis karena dia adalah teman yang menghibur tetapi mengapa dia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri”. Evan pun turut sedih mendengar cerita tersebut. “Tetapi mengapa dia mengincar diriku” dalam hati evan yang heran.

Keesokan malamnya pasnya jam 22.48 WIB Evan membangunkan kakaknya.”Kak.. Kak.. bangun” Tanya Evan. “ada apa sih bangunin malem begini” Jawab kakaknya dengan wajah kantuk. “Kita coba untuk bertemu dengan Eneria apa yang telah terjadi olehnya”ujar Evan. “Baik lah..” Balas dengan muka kantuk. Setalah kakaknya terbangun, Mereka berdua langsung memasuki rumah kosong tersebut. Tetapi, anehnya pintu tersebut tidak mau terbuka. “Kak.. pintunya tidak mau terbuka”Tanya Evan sambil ngotak-ngatik pintu.”Coba kamu dobrak aja van”ujar kakaknya. Namun pintunya pun tidak mau terbuka.”Coba lewat pintu belakang”ujar kakaknya. Akhirnya meraka lewat pintu belakang, syukur ada pintu yang terbuka. Evan dan kakaknya pun bergegas masuk. Setelah mereka masuk, Evan mendengar suara tangis  Eneria, lantas bulukuduk Evan pun naik. Dengan rasa takut Evan dan kakaknya pun menceria Eneria. “Eneria… Diamana Kamu..?” Teriak kakaknnya.” Whoooossss….”Sesuatu ada yang lewat di belakangnya. “Evan apa kamu merasakan ada yang lewat” Tanya kakaknya yang sangat ketakutan. Namun, Evan tak menjawab. Saat kakaknya menoleh kebelakang dia tidak melihat Evan. “Evan… Evan… Di mana kamu? ” teriak sambil mencari”. Lagi, Evan tak menjawab. Kakaknya pun mencari Evan dengan rasa takut. Saat dia berjalan kearah kamar Eneria kakaknya menemukan jam tangan di Evan. “Dooorrr..” kakaknya mendrobak pintu kamar Eneria. Lalu kakaknya masuk melihat si Evan yang sedang menangis.”Van.. kamu tidak apaa – apa , kenapa kamu mengangis?” Tanya kakaknya. “Evan Takut kak”. Balas Evan sambil menangis. “Clingg...Clingg..” Evan mendengar suara seperti pisau diasah. “Eneeeria ….” Kami ingin bertemu dengan mu, apa yang telah terjadi padamu. Mengapa kau mengakhiri hidup mu dengan bunuh diri dan mengapa ka uterus menghantui ku”Tanya Evan. “gubrakk… brakkk..”seperti suara kayu di banting. Evan dan kakaknya pu berlari menuju pusat suara. Akhirnya mereka menemukan Eneria. Nampak dari kejauhan mukanya pucat, matanya putih polos, bagian leher berlumuran darah , mengenakan pakian tidur berwarna putih , sandal biru persis yang dilihat oleh Evan sebelumya. “Eneria i…tu kamu” Tanya kakaknya gugup. Namun Eneria tidak menjawab. Evan pun mencoba mendekati Eneria, namun dia menjauh. “apa yang telah terjadi sa..maa kamu En..eria” Tanya Evan. Lagi, Eneria tidak menjawab. Evan pun melihat mata Eneria yang sedang keluar air mata. Tiba – tiba Evan terbawa oleh alam sadarnya bersama Eneria. Lantas, kakaknya pun kaget dan shock melihat si Evan pingsang. “Van, Van… Bangun Van”. Membangunkan dengan wajah nangis. Di alam bawah sadarnya si Evan, dia bisa melihat kematian Eneria. Evan pun tak menyangka dan menahan tangis karena dia bukan bunuh diri tatapi ……? . Evan pun bangun dari alam sadarnya.”Syukur Van.. kamu bangun”memeluk erat erat si Evan. “Kak sekarang kita pulang ada yang mau kita bicarakan”. Menarik kakaknya dengn buru buru. “Van .. kok buru – buru sih Van.”Tanya kakaknya. “Nanti pasti kakak akan mengetahuinya” Jawab dengan logat marah.

Jam 01.38, ibu, ayah, dan bibinya mencari Evan dan kakaknya di sekeliling rumah. “Ibu … ayah….” Panggil Evan. “Evan… dari mana aja kamu nak”tany ibunya dengan cemas. “Evan dan kakak abis mengetahui kematian Eneria”jawab Evan. “Eneria..?”Tanya ibunya bingung. “Ya… Eneria mati bukan karena bunuh diri tetapi di bunuh oleh bibi ?” . “APA…?”ayah , ibu ,dan kakak Tanya histeris. “BI…. Coba jelaskan kepada kita, kenapa bibi membunuh Eneria” ? Tanya Evan dengan marah. “Apa yang kamu bicarakan, nak van” Tanya bibi pura pura tidak tahu. “pasti bibi, membunuh Eneria karena bibi tak mau katuahan bahwa bibi telah mengambil Emas – Emas milik orang tuanya Eneria, iya kan ?” Jawab dengan kesal. “iya itu benar.. “ jawab bibi dengan pasrah. Kenapa bibi lakukan ini semua hah … bibi telah membunuh teman terbaik saya” kata kakaknya yang nangis dengan kesal. Bibi pun meceritakan semua kejadian tersebut.

“Pada saat itu, bibi hendak ingin ke dapur. Bibi sekilas emas yang di taruh oleh ibu Eneria di dalam lemari. Saat itu bibi memiliki niat untuk mencuri emas tersebut agar dapat menghidupi saya dan keluarga. Saat malam hari, bibi lakukan niat jahat tersebut. Akhirnya bibi mendapatkan emas itu. Namun hendak pergi keluar, Eneria melihat bibi saat hendak keluar dari kamar orang tuanya Eneria. Lantas Eneria Bertanya ke pada bibi.”bibi ngapain dari kamar ibu dan ayah saya” Tanya Eneria penasaran. Bibi sedikit bingung,lalu bibi menjawab. “bibi…… lagi ngebersihin kamar orang tua enon” jawab dengan sedikit gugup. “Loh.. kok bibi membawa emas ibu?” Tanya Eneria bingung. Bibi pun lantas meninggalkan Eneria. Setelah sampai di kamar bibi mempunyai hasrat ingin membunuh Eneria karene taku ketahuan oleh orang tuanya Eneria. Saat jam tengah malam  itu juga malam jum’at bibi pun kedapur untuk mengambil pisau. Setelah itu bibi bergegas menuju ke kamar Eneria. Dengan cepat bibi menutup mulutnya Eneria dengan tangan dan menggorok leher Eneria. Setelah itu bibi bawa Eneria ke belakang rumah. Pisau yang bekas menggorok Eneria bibi letakkan di tangan Enria dan bibi taruh di lehernya agar orang curiga bahwa dia bunuh diri bukan di bunuh. Tak selang beberapa hari bibi merasa bersalah dan bibi ingin menceritakan kepada keluarganya. Namun orangtua Eneria meninggalkan rumah tersebut.”

“Teganya kau , sekarang bibi harus bertangung jawab. Besok pagi kita bawa bibi ke kantor polisi” ujar ayahnya. “bibi telah membunuh anak yang tidak berdosa cuman karena harta”.Emosi kakaknya
Keesokan pagi, kami menunggu bibi di ruang tamu. Namun bibi tak kunjung turun. Evan pun curiga.”pah, kayaknya bibi kabur nih”. Tanya kepada sang ayah. “coba kita liat dia keatas”.ujar ayahnya. Setelah membuka pintu….. “Astaga … bibi ..” kaget 1 keluarga. Ternyata bibi sudah meninggal dengan leher hampir putus dan pisau msh menempel di lehernya. Evan pun melihat ada surat di bawah badan bibi. Evan pun membaca surat tersebut.”Evan, terima kasih kamu telah membantu ku mengunkap kematian ku , ini adalah balasan bagi dari saya untuk bibi yang kejam dan sampaikan salam saya untuk kakak kamu.” Akhirnya Eneria pergi dengan tenang.